23 Februari 2020

"Soal Politik Itu Tanggung-Jawab Kolektif Apalagi Pendidik”

Ketua Bidang Organisasi Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Cabang Mataram, Adi Ardiansyah Al-Khawarizmi
Ketua Bidang Organisasi Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Cabang Mataram, Adi Ardiansyah Al-Khawarizmi
Saya termasuk orang yang menolak dengan tegas oknum yang melabeli dirinya sebagai tokoh politik (subjektif), memanfaatkan generasi dibawah umur hanya karena mereka telah terdaftar sebagai pemilih ungkap (A.E. Priyono) dalam Bukunya “Merancang Arah Baru Demokrasi”. Bagaimana tidak, demokrasi pasca reformasi akan dibawah kemana ? Pertanyaan yang masih relevan dan wajib dijawab oleh semua pihak, aktor politik, panelis kebijakan, dan lainnya ungkap seorang (Usman Hamid) menyambung pertanyaan dari rekannya diatas.

Mental politik kita masih bersifat posesif dan cenderung inkonsisten, disinilah praktek politik kita yang tidak bernilai (nonvalue) diperparah lagi dengan sumbu pemahaman politik yang sangat pendek. Coba kita perhatikan disetiap momentum musiman ini, kita lebih banyak di adu-domba bahkan dipecah belah oleh kepentingan parsial oligarki (Devide at impera), lebih mirisnya lagi tumbuh virus fanatisme kelompok sampai radius yang berkepanjangan, apalagi itu dibangun dengan memanfaatkan keluguan anak remaja dibawah umur, seperti pemilih pemula. Sungguh tega dan tidak profesional, masa depan anak-anak tersebut di barter dengan politik receh, nasi bungkus, bahkan tukar tambal pulsa paketan, meminjam istilah (Satria Madisa). Coba anda bayangkan, anak-anak itu yang seharusnya menghabiskan banyak waktu untuk menikmati pembelajaran karakter dini, malah diseret ke arena praktis yang didalamnya banyak predator liar. Jangankan memahami politik praktis itu apa ? Mengusap air mata temannya saja enggan dilakukan, itu semua karena empati yang sudah direduksi oleh soal receh tadi. You Now ?

“Moderasi Pemikiran, peran pendidik adalah ujung tombak yang mencerahkan kembali”

Dimanakah posisi pendidik pada klausal episode ini ? Secara kelembagaan ataupun personality, bagi seorang pendidik adalah kewajibannya melerai benang kusut ini, katakanlah akademisi, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, pers secara kelembagaan sampai tokoh tik-tok sekalipun harus memiliki sensitifitas social untuk menggalang upaya pencerdasan politik (education) di ruang publik. Langkahnya pun terbilang sederhana, tidak menguras energi yang banyak, efektif dan efisien, seperti menumbuhkan budaya literasi social lewat lini massa media yang telah disediakan, komunikasi langsung face to face dengan kelompok minoritas maupun pemuda (pemilih pemula), dan sebagainya. Hal ini bukan hanya membantu penyelenggara Demokrasi (KPU & Bawaslu) merasa ringan untuk melakukan profesionalisme kerjaannya, tapi juga meningkatkan partisipasi publik untuk terlibat langsung mengawal dan memastikan haknya ada diposisi yang sama.

Hal demikian merupakan antitesa dari simpul politik receh, tidak bernilai, cenderung pasif, dan ugal-ugalan. Bagi seorang pendidik, dia seharusnya paham melakukan marger isu prioritas yang ingin dikampanyekan dan lebih dibutuhkan oleh masyarakat sebagai upaya kecerdasannya. Tanpa melabrak jalur prosedural, santun dan elok ketika mengendarai momentum (ritme) yang terjadi dilapangan. Dengan ini, peran masyarakat yang tercerahakan akan naik level (high quality), bermartabat hingga integritas moralnya tetap terjaga utuh. Anda bisa bayangkan sendiri, 20 Tahun yang akan datang orang-orang yang berkualitas ini mengambil peran penting mengisi panggung politik praktis dengan nilai, mendistribusikan kualitas mereka dengan pikiran yang tercerahkan, bahkan hal tersebut perlahan-lahan menenggelamkan stigma buruk tentang politik praktis hanya di isi oleh orang-orang itu, keturunan darah biru, dinasty of continue, dominasi oligarki (koorporasi), bahkan mengakar ke politik identitas. Apakah anda tidak bahagia dengan hal demikian ? Tentu anda akan sangat bahagia, karena abstraksi politik anda telah naik ke level objektif, dimana gagasan dan isi pikiranlah yang akan bergulat diatas panggung publik. Hingga akhirnya kita semua merasakan kesetaraan yang sama dimata apapun.

“Jangan Bangun Rumah Diatas Dahan Yang Rapuh”

Terminologi tersebut “Jangan Bangun Rumah Diatas Dahan Yang Rapuh” adalah buah pikiran dari Prof. Ahmad Syafii Ma’arif dalam bukunya yang berjudul (Islam dan Politik || Upaya Membingkai Peradaban) yang merupakan alarm subtantif ketika konstelasi politik mulai ditabuh oleh penyelenggara. Semua pihak akan menyambut dengan uforia dan semangat egaliterian, tetapi disini kadangkala ada kecenderungan polarisasi yang tajam di akar rumpun, oleh karena management tim suksesnya yang sentralistik dan hanya bermodal semangat tok memobilisasi masa sebanyak mungkin, sehingga kualitas persatuan terabaikan.

Momentum politik musiman bagi seorang Ahmad Syafii Ma’arif paling substansial adalah upaya pendidikan sekaligus penyadaran terhadap publik tentang pentingnya literasi politik yang inklusif, dimana semua pihak menggalang kesadaran untuk menaikan level pemikirannya, terlepas dari pro-kontra yang akan dipilih atau di dukung itu siapa. Kesadaran ini dikampanyekan oleh Ahmad Syafii Ma’arif dengan tujuan memperkokoh konstruksi politik gagasan para kandidat di alam demokrasi yang terbuka, dimana semua tokoh harus mampu naik level sebagai Negarawan, tidak stagnan pada wilayah itu-itu saja. Meskipun Ahmad Syafii Ma’arif menyadari butuh waktu panjang untuk menjajaki hal tersebut, tetapi perlahan-lahan dengan optimisme kolektif wajah politik praktis tersebut mulai terbenahi dan memiliki nilai, sehingga disparitas keteladanan dapat terhindarkan dan semua pihak tidak pesimis untuk mengambil peran strategis di dalamnya (The And Of History || Francis Fukuyama).

#Bersambung....
#MillenialsBerbicara...

Oleh : Adi Ardiansyah Al-Khawarizmi
Penulis adalah Ketua Bidang Organisasi Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Cabang Mataram.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan berkomentar, bebas tapi sopan. Komentar menjadi tanggung jawab pribadi. Pemilihan kata tanpa SARA, fitnah, hoax dan ujaran kebencian, sangat Kami hargai.