13 Februari 2020

Ketua BPIP Tendesius Soal Pancasila

Adi Ardiansyah,  Ketua Bidang Organisasi IMM Cabang Mataram
Adi Ardiansyah, Ketua Bidang Organisasi IMM Cabang Mataram
Saya sedikit risih kalau ada oknum atau dalam kapasitasnya sebagai pejabat publik mengeluarkan pernyataan nyeleneh tentang konsepsi dasar kehidupan keberagaman sebuah Bangsa. Sebab, framing media tidak menunggu waktu lama atau harus mengkonfirmasi kembali informasi yg viral saat ini bisa diteruskan atau tidak. Publik dengan sendirinya akan terbangun, apalagi yang disinggung itu adalah soal keyakinan (Agama) dengan pedoman dasar kehidupan berbangsa (Pancasila).

Diksi musuh yang dipilih oleh Ketua BPIP tidak hanya melukai kayakinan dalam terminologi Agama, tetapi menjadi martir ideologis kehidupan kebangsaan yang majemuk. Seharusnya kita belajar banyak dari pengalaman sejarah tentang dinamika perumusan Pancasila sebagai falsafah kebangsaan, dimana pergumulan ide, gagasan, serta penolakan kultural kala itu menimpa tubuh bangsa yang masih rapuh untuk berbicara tentang kemajuan. Apakah 32 tahun tidak cukup Pancasila ditafsirkan secara tunggal dan monolitik hanya untuk melanggengkan kekuasaan keluarga cendana, apakah kita lupa bagaimana paraunya suara para tokoh yang bersuara lantang hanya untuk mendapatkan kebebesan alam pikirannya. Lantas, hari ini setelah kita mendapatkan kebebasan berucap, berpikir, dan bertindak, lalu kita ingin kembali berdebat tentang trauma sejarah kelam yang panjang itu ?

Massa transisi panjang kebangsaan kita tidak akan pernah hilang dalam ingatan publik, hal itu secara lugas diuraikan oleh seorang cendekiawan ternama Ahmad Mansur Surya Negara dalam Api Sejarah Jilid I & II . Beliau menghabiskan waktu panjang hanya untuk mengabarkan kepada Bangsa bahwa dalam perumusan Pancasila, keyakinan (Agama) apapun itu adalah personafikasi vertikal antara Tuhan dengan Umat-Nya, tetapi tidak akan mengabaikan kepentingan yang lebih besar, yaitu Bangsa Indonesia. Gejolak dan dinamika tersebut tidak hanya berhenti dititik itu, kita pun tidak lupa bagaimana bersikukuhnya seorang Ki Bagoes Hadikusumo mempertahankan 7 butir sakral penggalan kalimat yang diganti hanya untuk menghormati yang lainnya, sampai beliau menghela napas panjang dan memaksa seorang Kasman Singodimedjo turun gunung untuk meluluhkan hati Ki Bagoes.

Sungguh riskan dan tendesius, BPIP secara ideal adalah penjaga gerbang Ideologis kebangsaan kini malah membuka keran instabilitas Negara. Saya pikir ini merupakan dosa sejarah yang harus segera ditamatkan, karena kepentingan Bangsa lebih besar dari yang lainnya. Bagi saya, siapapun dia, apapun status socialnya, apalagi sekelas ketua BPIP yang seharusnya menggalangkan atmofsir persatuan tidak perlu nyeleneh menggunakan falsafah kebangsaan. Lebih baik menyibukan diri untuk menyusun langkah taktis agar Pancasila secara kolektif bisa di definisikan sampai akar rumpun, jadi tidak hanya diucapkan satu kali sepekan pada momentum upacara Bendera oleh Pembina Lapangan, tetapi wilayah praksisnya Pancasila dapat diterjemahkan dalam kehidupan sehari-hari.

Oleh : Adi Ardiansyah
Penulis Adalah Ketua Bidang Organisasi IMM Cabang Mataram

2 komentar:

Silahkan berkomentar, bebas tapi sopan. Komentar menjadi tanggung jawab pribadi. Pemilihan kata tanpa SARA, fitnah, hoax dan ujaran kebencian, sangat Kami hargai.